Blog-nya si Bunda Wulan

A tragedy so close to home….(Tragedi Situ Gintung)

Posted on: March 30, 2009

HARI itu hari Jumat pagi  tanggal 27 Maret 2009, sekitar pukul 9 pagi. Kami sekeluarga masih bersantai-santai di rumah karena kebetulan suami mengambil cuti 1 hari dari kantor, dan anak-anak mendapat libur dari sekolah, ketika kami mendengar berita tentang jebolnya tanggul Situ Gintung.

Berita itu begitu mengagetkan kami karena lokasinya hanya beberapa kilometer dari tempat kami tinggal. Tidak pernah bisa saya bayangkan sebelumnya ada kejadian yang begitu dashyat terjadi begitu dekat dengan kami. Pintu masuk ke danau situ gintung berada di jalan raya yang biasa kami lalui sehari-hari. Saya pribadi merasa sangat terpukul atas tragedi ini, karena banyak teman-teman dari masa lalu saya (teman-teman SMP dan SMA) yang bertempat tinggal di sana. Selain itu, malam sebelumnya saya seperti mempunyai firasat sesuatu yang buruk akan terjadi.

Sore itu,  Kamis, tanggal 26 Maret 2009.  Matahari telah menghilang ditelan senja ketika saya, suami dan anak-anak senikmati hot caramel machiato dan chocolate chip cookies di Starbucks Citos. Hujan deras yang sejak siang mengguyur langit Jakarta Selatan, kembali menghantam kawasan tempat kami berada. 

Tadinya kami berencana mengunjungi andung-nya anak-anak (andung = nenek; dalam bahasa minang) di daerah Karet, Setiabudi setelah dari Citos. Namun melihat kondisi cuaca yang buruk seperti itu, ditambah pantauan melalui internet yang juga mengkonfirmasikan banyaknya pohon yang tumbang di jalanan pada saat itu, saya meminta kepada suami untuk membatalkan niat kami. Awalnya suami berkeras untuk tetap pergi karena sudah terlanjur janji kepada mamanya untuk datang.  Melihat hujan yang tidak kunjung mereda, suami saya lalu berencana untuk mengantar kami pulang dulu ke Bintaro, lalu dia akan berangkat sendiri. Tapi saya menolak dengan tegas. Buat saya lebih baik kami sekeluarga bersama-sama, dalam kondisi apapun, dalam susah dan senang, daripada saya ditinggal di rumah namun risau akan keselamatannya.

Jadi akhirnya suami memutuskan untuk membatalkan rencana kami, dan kami sekeluarga pun langsung pulang ke rumah. Tentu saya mama mertua saya kurang senang dengan keputusan itu, dan malam itu saya tahu, suami saya tidur dengan perasaan bersalah kepada ibunya.

Kembali ke tragedi Situ Gintung, derasnya air bah akibat jebolnya tanggul ternyata menghanyutnya serta menghancurkan sekurang-kurangnya 500 rumah yang berada di bawahnya dan menenggelamnya setidaknya 10 hektar lebih kawasan di sekitarnya. Ketika postingan ini saya tulis, jumlah korban yang meninggal sudah mencapai 98 orang yang terdiri dari 65 jenazah wanita dan 33 jenazah laki-laki. Sedangkan korban yang hilang dan belum dapat diketemukan sebanyak 115 orang. 

titik jebolnya tanggul (www.kompas.com)

titik jebolnya tanggul (www.kompas.com)

mobil yang turut hanyut (photo: thedailymail (UK))

mobil yang turut hanyut (www.dailymail.co.uk)

kawasan yg porak poranda (www.newsday.com)

kawasan yg porak poranda (www.newsday.com)

Saya sungguh bersyukur karena malam itu Tuhan tetap melindungi keluarga kami, seperti halnya pada malam-malam sebelumnya. Saya yakin bahwa mama mertua saya sekarang sudah memahami alasan kami membatalkan kunjungan kami malam itu. Saya turut prihatin atas musibah yang terjadi di Situ Gintung, dan berduka cita yang sedalam-dalamnya atas semua yang menjadi korban dalam bencana itu. Kiranya semua pihak diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi pencobaan ini. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: